PENGAJAR SIAP MENCIPTAKAN GENERASI EMAS BERAKHLAQUL KARIMAH DI TENGAH PANDEMI COVID-19 (SMP AR RAFI DRAJAT TERBAIK DI BANDUNG) 0888-0942-4259

 PENGAJAR SIAP MENCIPTAKAN GENERASI EMAS BERAKHLAQUL KARIMAH DI TENGAH PANDEMI COVID-19 


Memperingati hari Pendidikan Nasional Indonesia pada tanggal 2 Mei 2020 yang lalu, merupakan semangat yang senantiasa memotivasi menyiapkan Generasi berpuluh-puluh tahun mendatang dengan lebih baik lagi. Banyak sekali kata-kata yang menyemangati dan mempengaruhi semangat para Pengajar untuk bisa meraih cita-cita membangkitkan Generasi Emas. Apalagi peringatan hari Pendidikan Nasional kali ini dilakukan di tengah pandemi COVID-19. 
Kemdikbud menekankan bahwa generasi emas yang dimaksud adalah lahirnya generasi di masa mendatang pada tahun 2045, dimana mereka yang usia 0-9 tahun akan berusia 35-45 tahun, lalu yang usia 10-20 tahun berusia 45-54. Dimana, pada usia-usia itu yang memang memegang peran penting dan sentral di suatu negara. Oleh karena itu sambutan Beliau bertemakan "Pendidikan di tengah Pandemi COVID-19, menyadarkan guru, siswa dan orang tua menyadari bahwa pendidikan itu bukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan di sekolah saja. Tetapi, pendidikan yang efektif itu membutuhkan kolaborasi antara guru, siswa dan orang tua. Tanpa kolaborasi itu, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi ”. Ujar Beliau.
Pernyataan Kemdikbud di atas, bagi saya merupakan sebuah momentum untuk senantiasa bisa memperkokoh kesadaran dan komitmen akan pentingnya pendidikan yang berkwalitas bagi masa depan bangsa, tidak hanya sentral kepada guru, tapi orang tua juga ikut berperan aktif. Sejalan dengan yang dikemukakan Ensu Al-Faizin, “Dari sambutan tersebut motivasi saya untuk berbuat dan mengaktualisasikan tema tersebut dalam keseharian di lingkungan dunia pendidikan menjadi cita-cita untuk membangkitkan Generasi Emas yang berakhlaqul karimah”.

Namun, beda halnya dengan pernyataan Bejo Slamet yang mengungkapkan kemirisan nyata dalam dunia Pendidikan. Ujar Bejo, “Saat ini saat pendidikan landasan yang dipakai adalah sekulerisme, kapitalisme, liberalisme. Sekulerisme menyebabkan lembaga pendidikan kehilangan orientasi untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter. Outputnya, adalah orang-orang yang tak lagi mengindahkan ajaran agama dan tipis akhlaknya. Ditambah dengan ditanamkannya ide liberalisme, lahirlah siswa-siswa yang bertingkah laku dan bergaya hidup bebas, dan cenderung sulit diatur. Muncul berbagai problem seperti gaya hidup bebas, seks bebas, narkoba, tingkah laku brutal, tawuran, dan sebagainya”.
Menurut saya, Realita nyata yang diungkapkan oleh Bejo Slamet bisa menjadi gambaran yang luar biasa untuk para Pengajar agar senantiasa bercermin kedepan, untuk sama-sama bekerjasama menciptakan Generasi Emas yang berkwalitas serta tidak berlandaskan Sukarelisme, Kapitalisme, dan Liberalisme tapi berlandaskan nilai-nilai Islam yakni bersumber dalam Al-Qur'an. Pengajar di sini bukan hanya guru, tetapi orang tua sangat berperan penting dalam pengawasan belajar siswa. Terutama saat pandemi saat ini. Belajar memang tidak mudah, tetapi inilah saatnya kita semua berinovasi. Inilah saatnya kita mendengarkan hati nurani dan belajar dari COVID-19. Agar kita menjadi lebih baik dimasa yang akan datang dan selalu mengingat Sang Pencipta Allah SWT. 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzaariyaat: 56)


Oleh karena itu, SMP Ar Rafi’ Drajat hadir sebagai SMP terbaik di Bandung memiliki konsep pendidikan di tengah Pandemi COVID-19 untuk membangun sosok ulil albab yaitu dengan memberdayakan manusia menjadi muslim yang kaaffah, sebagai pemikir (peneliti), membangun manusia yang berpribadi integral (integrated personality) yang satu kesatuan antara nilai dan sikap, ucapan dan perbuatan. Selain daripada itu, pada era globalisasi saat ini, sosok calon pemimpin yang dibutuhkan adalah mereka yang merupakan masyarakat ilmiah dan masyarakat pembelajar. 

Oleh karena itu, visi SMP Ar Rafi’ Drajat adalah menyelenggarakan pendidikan yang dapat memberdayakan calon-calon pemimpin di muka bumi ini yang beraqidah kuat, amanah, fathonah, siddiq, tabligh dan istiqomah namun tetap sebagai sosok manusia beriman yang berakhlak mulia.


Jadi, menciptakan generasi emas yang berahklaqul karimah di tengah pandemi COVID-19 tidak cukup secara intelektual saja. Namun, harus didasari dengan aqidah dan iman yang bersumber dari Al-Qur'an. Sehingga dapat terhindar dari sekuler. Maka dari itu, harus diawali oleh pengajarnya terlebih dahulu. Karena siswa/anak melihat pengajar (guru dan orang tua) sebagai model penanaman karakter walaupun saat situasi pandemi. Apa yang siswa lihat pastinya akan ditiru. Oleh karena itu, mari kita sebagai pengajar (guru dan orang tua), berbondong-bondong untuk senantiasa menguatkan aqidah dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Mungkin itu sekilas ulasan yang bisa saya kemukakan. Saya yakin dimanapun siswa belajar apabila kita menerapkan pola nilai-nilai Islam, maka keberadaannya akan selalu hangat dan  menjadi ladang ibadah di mata Allah SWT. Sehingga akan mudah menciptakan dan membangkitkan Generasi Emas yang berakhlaq mulia untuk bersaing secara global dimasa yang akan datang. Seorang pengajar harus siap menjadi GURU IBADAH dan GURU PEMBELAJAR*** (Riyadul Maisah)


Sekolah Ar Rafi’ Drajat telah membuka pendaftaran untuk tahun ajaran baru 2020-2021 sejak bulan September lalu. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.arrafidrajat.sch.id atau ikuti

media sosial FB, IG @smparrafidrajat. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar