0888 0942 4259 Keajaiban Goresan Pena (SMP Terbaik Bandung Ar Rafi' Drajat)

 Keajaiban Goresan 

Dua orang alumni sebuah universitas terkemuka bertemu di lobby sebuah hotel. Satu di antaranya berpenampilan elegant, memakai jas dan dasi serta membawa tas hitam di tangan kanannya. Wajahnya menyiratkan semangat penuh antusias dengan mata menatap lurus ke depan seolah tidak lama lagi dia akan menggenggam dunia, rupanya pria ini sedang bersiap mengisi sebuah seminar penting.   Seorang yang lain tak kalah rapi, namun  bedanya, kehadiran pria satu ini adalah sebagai peserta.

Dia bahagia melihat sang sahabat berada di depan sebagai seorang pemateri di SMP terbaik di Bandung yaitu SMP Ar Rafi Drajat. Dia bangga pada sang sahabat. Namun di sisi lain ada penyesalan dalam dirinya. Dia berpikir keras mengapa dia tidak serta berada di tempat yang sama dengan sahabatnya. Dia hanya mencoba mengobati kekecewaan dengan mengatasnamakan takdir dan nasib. Walaupun jauh di lubuk hatinya dia teringat beberapa tahun silam saat menikmati bangku sekolah banyak kesempatan yang dilewatkannya. Dia sadar, dia tak kalah cerdas bila dibandingkan dengan sahabatnya, nilai indeks prestasinya tak berbeda jauh dengan sang sahabat. Namun ada satu hal yang dia lupakan. Sang sahabat adalah orang yang tak pernah berhenti berkarya, terutama menulis. Dia tak pernah lelah menuangkan ide-idenya dalam tulisan. Dia tak pernah lelah menggoreskan pena dan menuliskan pemikirannya. 

Ilustrasi diatas hanya satu contoh dari sekian banyak kerugian yang akan didapatkan oleh seorang pelajar karena memarginalkan menulis dalam hidupnya. Banyak pelajar menggali ilmu. Mereka membaca, mencari dan mempelajari namun mereka lupa menghasilkan. Mereka lupa berkarya, lupa menuangkan gagasan-gagasannya. Mereka sulit untuk menggoreskan pena. Sebagaimana Allah SWT berfirman : 

«وَ الْقَلَمِ وَ ما یَسْطُرُونَ» Artinya :
“Demi pena dan apa yang mereka tulis.”  (QS. Al-Qalam: 1) 
Qalam artinya alat menulis atau sesuatu yang dengannya dapat digunakan untuk menulis.


Allah SWT dalam ayat ini menyebutkan sumpah dengan qalam (pena) dan apa yang ditulis dengan qalam. Secara lahir konteks ayat dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan qalam (pena) adalah segala bentuk qalam dan segala jenis tulisan yang ditulis dengan qalam (pena). Hikmah  dari sumpah ini yang dinyatakan dengan qalam dan tulisan yang merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang terbesar yang dianugerahkan kepada manusia dan dengan perantara keduanya (qalam dan tulisan) bebagai peristiwa, kejadian dan segala yang terpendam dalam hati dapat direkam dalam tulisan. Manusia dengan perantara qalam dan tulisan dapat menulis setiap kejadian di sepanjang sejarah. Sehingga manusia dapat menghasilkan berbagai karya dalam hidupnya. Mengingat menulis memiliki peran penting dalam kehidupan akademik, sosial, dan bahkan personal, maka pengembangan keterampilan menulis merupakan prioritas utama dalam kegiatan pendidikan. Melalui kegiatan menulis, pelajar dan pengajar dapat mendorong untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Mengapa harus menulis? Banyak orang dan pelajar berasumsi bahwa menulis bukan hal yang mesti dilakukan. Cukup dengan segala macam pengetahuan yang dimiliki tanpa menuangkannya dalam karya tulis. Mungkin menulis hanya menjadi formalitas saat menyusun tesis atau tugas-tugas. Padahal banyak manfaat dan hikmah yang bisa dipetik dari goresan pena di atas kertas. Oleh karena itu, jangan sia-siakan hidupmu tanpa menghasilkan karya. Allah SWT berfirman : 

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)  

Artinya : ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa merugilah bagi seseorang yang mmenyia-nyiakan waktunya. Sama halnya dengan mencari ilmu, seorang tidaklah dikatakan menuntut ilmu kecuali jika dia berniat bersungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya,  seseorang dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya. Oleh karena itu, betapa indahnya perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah : 

لاَ يَزَالُ الْعَالِمُ جَاهِلاً حَتىَّ يَعْمَلَ بِعِلْمِهِ فَإِذَا عَمِلَ بِهِ صَارَ عَالِمًا

”Seorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim” (Dikutip dari Hushul al-Ma’mul).


Apakah kalian masih meremehkan menulis sebagai aktivitas tidak berguna? 

Sebaiknya mulai sekarang dalami dan tekuni bidang kepenulisan. Karena keajaiban goresan pena bisa jadi bekal untuk mengarungi duniaSebabsegala kehidupan membutuhkan seseorangyang jago merangkai kata. Caranyaambil langkah awal berupa penentuan jenis tulisan apa yang ingin duluan diperdalamSesuaikan saja dengan ketertarikan minat lainnya dan berkaryalah lebih banyak. *** Riyadul Maisah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar