CERPEN karya siswa

Tidak Mereka Anggap
CERPEN Karya Aliefah Revalina Mahardhita



       Sedih rasanya bila mereka sedang terlihat bahagia, tapi disini aku hanya tertunduk, diam tak tahu apa yang harus aku lakukan. Iri rasanya bila sedang diluar rumah melihat pasangan adik dan kakak terlihat bahagia, adapun juga yang membelikannya apa yang adeknya inginkan. Aku tahu ibu sudah tiada karena ulah aku saat aku berumur 3 tahun. Tapi apakah aku harus didiamkan keras oleh para kakakku.

       Dulu aku dilahirkan dengan keadaan yang masih merasa adanya kasih sayang dari kedua orangtua. Aku dan kakak perempuanku yang terlahir di hari yang sama denganku. Ya, aku dan kakak perempuan ku kembar. Dan aku memiliki 4 kakak laki-laki ku sebut aja mereka abang. Abang Rio, Abang Serdi, Abang Juwi, dan Abang Gilang. Mereka semua adalah kakak kandungku. Tapi mengapa sekarang di umurku yang 17 tahun ini, tidak pernah merasakan kasih sayang dari abangku. Aku iri dengan kembaranku, bernama Ka Seli. 

       Ka Seli sayang sekali denganku, tapi kenapa abang tidak pernah ada rasa sayangnya sama aku yang anak terakhir ini. Aku iri melihat mereka yang sedang di rumahku tepatnya di ruang keluarga yang sedang bercerita diselingi dengan tawaan dan candaan dari semua abangku kepada Ka Seli.

“Bang Rio… aku lapar dan aku mau makan”
“Punya kaki? punya tubuhkan? perempuan kan? bikin sendiri 
 bisalah!”

Aku terdiam mencerna apa perkataan Bang Rio. 

“Aku gak laper bang”

Aku langsung lari menuju kamar ku untuk menenangkan diri.

“dih adik siapa dia, aneh banget”

       Disisi lain aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur dan mengingat perkataan terakhir bila Bang Rio tidak mengetahui bahwa aku ini adik terakhir bagi dirinya dan semua kakaknya. Atau mungkin mereka pura-pura tidak mengetahui? sudahlah aku tidak boleh seperti ini. Aku harus bisa mengembalikan kasih sayang abang dengan rata. Untukku dan untuk Kak Seli.

“bu… kenapa abang selalu berbuat seenaknya kepadaku tetapi kepada Kak Seli tidak? apa sekesal itu kah abang sampai aku tidak diberi kebahagiaan juga. Apa mereka hanya menganggap Kak Seli sebagai adik satu-satunya mereka sedangkan aku tidak? bu.. aku mohon aku juga ingin mendapatkan apa yang Kak Seli juga dapatkan dari abang semua”
       Malam harinya aku sudah rapi dengan pakaian luar. Kenapa? karena aku ingin melihat bintang-bintang yang berkilau seperti seorang kakak yang memberi kebahagian dengan kilaunya kepada seorang adik. Aku membuka pintu dan langsung dikejutkan oleh Kak Serdi.

“Mau kemana malem-malem gini keluar. Anak perempuan tidak boleh keluar di malam hari”

Aku tertunduk, karena aku bersyukur Bang Serdi memiliki rasa khawatir, aku senang, terimakasih Tuhan karena sudah mendengar apa yang aku maksud. 

“Mau lihat bintang di taman kompleks bang. Boleh? tapi kalau tidak boleh juga tak apa”
“Tidak sampai pulang juga tak apa!”

       Bukan itu bukan Bang Serdi, melainkan Bang Rio kakak pertamaku. Daripada aku berdiam diri lama-lama, aku langsung lari keluar dari gerbang rumahku dan pergi ke taman kompleks. Aku duduk bersender dibangku yang kosong sambil menangis sejadi-jadinya. Aku benar-benar sakit hati mendengarkan perkataan Bang Rio.

“Tidak usah menangis nanti hilang dong cantiknya, adik kesayangan abang setelah Kak Seli juga dilarang untuk menangis. Hehehe, kenapa kamu menangis?”

Itu Bang Juwi, aku mengenal suaranya, bahkan aku terkejut dan terharu bahagia karena Bang Juwi selama ini abang yang selalu ada buat aku kapanpun tanpa sepengetahuan Abang yang lain. Kecuali Kak Seli, ia mengetahuinya karena ia masih mengharapkan bila aku mendapatkan juga perlakuan seperti yang ia rasa. Karena menurut Kak Seli aku juga pantas dan layak mendapatkan kasih sayang seorang kakak.

“Bang memangnya ibu meninggal karena aku melakukan apa?”
“Ibu meninggal karena menyelamatkan kamu yang sedang berdiri di tengah jalanan kompleks yang pada saat itu jalanan terlihat ramai, hingga ibu terpental karena ditabrak dengan mobil angkutan barang, dan bahkan banyak darah yang berada di jalanan hingga kamu menutupkan mata menggunakan tanganmu karena kamu takut darah dan benci darah. Lalu kamu ditarik paksa oleh Bang Rio kedalam rumah dan membentak mu karena Bang Rio menyimpulkan itu semua kesalahan kamu. Dari situ abang tidak tega dengan perlakuan yang Bang Rio perbuat. Dan abang mulai merawat kamu hingga kamu tumbuh besar”

       Aku menangis sejadi-jadinya. Bang Juwi yang melihatnya langsung memelukku dan menyalurkan kebahagiaannya melewati pelukan saja. Dan akupun merasa lebih tenang.

“Terimakasih bang, sudah merawatku hingga aku sebesar ini. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa”
“Iya sama-sama adik abang yang abang sayang. Udah kita tidak boleh sedih lagi. Oh iya, Bang Rio lusa ulang tahun loh, kamu mau memberi hadiah apa?”
“Aku belum tahu bang, aku masih takut bila Bang Rio tidak menerima hadiah dariku”
“Kita harus usaha dulu, tidak boleh putus asa! apa lagi kita belum melakukannya”
“Eumm… aku bakal pikirkan lagi ya bang”
“Sip deh, ya sudah yuk pulang sudah jam sepuluh malam”

       Aku hanya menganggukan kepala dan bergegas pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku masuk kedalam kamar dan berbaring di kasur, lalu aku berpikir apa hadiah yang bagus untuk diberikan kepada Bang Rio.

“apa aku bernyanyi di cafe dekat rumah dan hasil uangnya akan aku belikan gitar untuk Bang Rio” gumamku.

Seketika aku pun tersenyum karena mendapatkan ide seperti itu. Dan mulai besok aku akan datang ke cafe itu. Aku pun tertidur karena aku lelah.

       Paginya tepatnya pukul 09.00 aku mandi dan sarapan. Seperti biasa aku sarapan selalu sendiri. Saat aku datang ke meja makan, abang kecuali Bang Juwi dan Kak Seli pindah ke ruang keluarga. Sebenarnya Kak Seli tidak seperti itu. Kak Seli seperti itu karena ajakan Bang Serdi dan tarik paksaan oleh Bang Gilang. Setelah itu aku ceritakan kepada Bang Juwi apa yang akan aku lakukan di cafe nanti yang hasil uangnya akan ku belikan gitar hadiah untuk Bang Rio. Bang Juwi mengizinkannya untuk itu.

       Aku bergegas pergi ke cafe untuk menyanyi dan menambah suasana di dalam cafe tersebut. Hingga tak sadar aku menemui Bang Rio yang mungkin juga sedang melakukan kerja kelompok dengan temannya. Mata kami saling bertemu dan sampai akhirnya,

“loh ngapain kamu disini? mau ngamen kamu?”
“KALAU MEMANG PERTANYAAN ABANG BENAR KENAPA?”

Kataku dengan keras karena aku merasa tertekan dengan semua perkataan yang Bang Rio lontarkan.

“Lagian hasil dari uang nyanyi aku di cafe ini untuk membeli gitar yang abang inginkan selama 4 tahun, aku ingin buat abang bahagia dan memberi kebahagiaan yang abang punya untuk aku melewati hadiah itu bang! tapi dengan cara seperti ini abang seperti tidak menghargai hasil usaha aku”

       Aku tahu Bang Rio terkejut dengan semua perkataanku tadi. Dan aku langsung lari keluar dari cafe tersebut ke arah toko musik. Setelah sampai ke toko musik tersebut dan membelinya aku minta pedagang itu untuk membukusnya agar terlihat lebih rapi dan enak dilihat dimata Bang Rio.

Sesampainya di rumah terlihat mereka semua sedang memotong kue pemberian dari ayah. Ayah juga sudah pulang demi ulang tahunnya Bang Rio, akupun masuk dengan di awali dengan senyuman.

“Eh ada anak ayah darimana saja? terus itu apaan besar banget perasaan”
“Eum.. ini buat Bang Rio”

Sontak semua terkejut karena barang yang aku berikan bukan main-main.

“Kamu dapat uang sebanyak harga gitar itu darimana?” ucap Bang Gilang
“Aku dapat hasil uang ini dari di cafe tadi, aku nyanyi bang. Tadi juga aku bertemu Bang Rio kok” ucap ku.
“Bang Rio, selamat ulang tahun ya. Semoga abang selalu jadi abang terbaik buat keluarga terutama buat aku. Maaf aku cuman kasih ini saja, aku tidak bisa seperti Kak Seli yang bisa memberi kebahagiaan banyak buat abang. Dan aku--” ucapku lalu di potong oleh Bang Rio.

“Cukup, abang mengerti sekarang apa yang kamu maksud. Maafin abang yang selama ini tidak anggap kamu adik kandung abang. Maafin abang waktu pertama kalinya kamu di bentak sama abang ketika kamu berumur 3 tahun”
“Tidak apa bang, aku sudah memaafkannya. Lagian mau abang buat salah kepada aku, aku langsung memaafkannya”
“Kamu memang adik abang setelah Kak Seli yang abang sayang dan adik abang yang lain sayang”
“Sekali lagi selamat ulang tahun ya bang, ini dibuka hadiahnya bang” ucapku sambil menyodorkan hadiah.

       Aku melihat abang dengan wajah yang sangat bahagia. Dan abang langsung memelukku, aku mendengar isakkan kecil yang di keluarkan oleh Bang Rio. Aku yakin abang sangat bahagia. Setelah aku berpelukan dengan Bang Rio, abang yang lain dan Kak Seli memelukku. Lalu setelah itu aku di peluk lagi oleh ayah bahkan yang terakhir dengan Bang Rio lagi. Aku sangat bahagia dan bersyukur. Saat aku berpelukkan dengan Bang Rio aku melihat Bang Juwi yang menunjukan senyumannya seperti ia menandakan,

“Kamu berhasil udah membuat keluarga kita semua balik lagi. Bahkan mendapatkan kebahagiaan dan kasih sayang dengan rata. Karena itu semua hasil usaha kamu sendiri tanpa ada rasa mengeluh”

       Aku mengeluarkan air mata karena aku terharu bahagia dan senang. Setelah itu Bang Rio yang melihatku mengeluarkan air mata lalu ia menghapusnya dengan sangat lembut. Kak Seli yang melihatnya sungguh senang, terutama ibu yang di atas sana dengan tenang. Terimakasih Tuhan sudah memberikan jalan terbaik untukku dan keluargaku. Aku harap kedepannya selalu seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar